Langsung ke konten utama

Postingan

Menyapa.

Rasanya sudah lama sekali ya tidak bersua. 4 tahun lamanya. Bahkan aku pun tidak tahu seharusnya kamu atau aku yang bertanya, "Hei, dari mana saja?" Kalau begitu, ijinkan aku untuk berkabar. Aku benar-benar dalam keadaan baik sekarang; sedang di penghujung masa studi, bergelut dengan skripsi. Aku menikmatinya, walau kecemasan akan tetap selalu ada. Namun, bumi dan negeri ini sedang tidak baik-baik saja; orang-orang berbakat yang pergi, bencana yang silih berganti, dan pandemi. Aku berdoa semoga semua lekas membaik dan kembali pada keadaan yang semestinya. Biar kuingat terakhir kali berkunjung kemari, aku masih SMA. Haha ternyata tumbuh dewasa tidak semenyenangkan yang kukira ya. Aku bersyukur memiliki masa kecil yang menyenangkan, karena itu yang membuatku mudah untuk mencari kebahagiaan. Aku senang disini aku menyimpan banyak memori, karena sampai sekarang aku masih belum bisa melakukan teleportasi menuju masa di mana aku ingin kembali. Aku mengerti kamu sadar bahwa ...

Sejatinya tidak ada denial untuk mencintai

Denialisme. Sesuatu yang disebut-sebut sebagai tindakan primitif yang dilakukan manusia untuk mempertahankan dirinya. Aku sering melakukannya. Kamu dan orang lain pun begitu, karena kita manusia. Aku sering melakukannya. Ketika keadaan memaksaku untuk tetap tegak, aku akan menghalau semua hal yang mengusikku, walaupun itu nyata. Aku sering melakukannya. Ketika keadaan benar-benar baik dan aku tidak ingin merusaknya. Ya, aku sering melakukannya. Ketika aku jatuh cinta. Entah sudah berapa banyak rasa 'nyaman' yang kutepis, sudah berapa banyak rasa yang kukubur dalam-dalam, sudah berapa banyak rindu yang tak terobati, dan sudah berapa banyak ekspektasi yang kujatuhkan sendiri. Penyangkalan-penyangkalan ini memang membuat segalanya berjalan baik-baik saja, tidak ada yang spesial. Pun membuatku menjadi manusia yang ahli dalam menyembunyikan perasaan. Aku berterima kasih kepada semua orang yang menyadarkanku bahwa sebenarnya aku tidak perlu menyangkal perasaanku sendiri, sejatinya ...

Kenangan Putih Abu-abu

Rasanya baru kemarin, masih jadi bocah lulusan SMP yang tidak sabar untuk memakai seragam putih abu-abu yanh baru saja selesai dijahit. Rasanya baru kemarin, memasuki gedung abu-abu dan disambut oleh kakak-kakak kelas dengan permainan domino yang menakjubkan. Rasanya baru kemarin, mengerjakan tugas MOS yang bertumpuk-tumpuk, menjalani sanksi akibat melanggar, hingga kena omelan dari kakak-kakak OSIS. Rasanya baru kemarin, tersenyum malu-malu dan ragu, padahal hanya untuk say 'hi' pada teman baru. Dan rasanya baru kemarin, mencoba beradaptasi di masa putih abu-abu. Hingga waktu memboyong kita sembari berlari. Penampilan lugu ditambah co-card gembel itu telah berubah menjadi deretan siswa siswi yang terus ingin mencoba hal baru. Berawal dari rasa bimbang untuk memilih jurusan, kemudian masing2 dari kita merasa bersyukur karena berada di jurusan yang tepat. Berusaha mencintai kelas baru, tanpa melupakan memori kelas lama. Terkadang mempunyai perasaan 'bangga' karena b...

Resensi Buku : The True Power of Water

Judul : The True Power of Water Penulis: Masaru Emoto Pengantar Buku : KH. Abdullah Gymnastiar Penerbit : MQ Publishing Tahun Terbit : 2006 Cetakan ke : 1 Tebal Buku : 192 halaman           Ini adalah buku ilmiah yang pernah meraih "The New York Times Best Seller"  yang ditulis oleh seorang saintis Jepang, Masaru Emoto.  The True Power of Water merupakan buku kedua Masaru Emoto setelah buku pertamanya, The Hidden Message in Water . Buku ini berisi tentang penelitian Emoto mengenai air dan kekuatannya yang menakjubkan. Penulis mengatakan bahwa penelitian yang dilakukannya tidaklah mudah, ia harus rela menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah ruangan bersuhu -15 derajat celcius demi melihat dan mengambil gambar pengkristalan air yang hanya muncul sekitar 20-30 detik.            Penilitiannya membuktikan bahwa air memiliki pesan yang tersembunyi di dalamnya. Hal ini dikarenakan air sangat sensitif ter...

Curhatan Dandelion

Seperti dandelion yang mencoba tegar, namun tak sadar dirinya lemah. Bahkan sentuhan angin lembut sekalipun dapat menyakitinya secara perlahan. Ia seakan ingin berteriak, mengapa bukan badai saja yang datang? Karena sekarat perlahan pastilah menyakitkan. Dandelion itu berada dalam dua kemungkinan, apakah ia tetap hidup, atau bahkan habis dan terbang bersama angin yang mengkulitinya. Namun, dandelion yang tegar tetap mampu berharap bahwa serpihan tubuhnya yang terbang akan jatuh di suatu tempat yang membuatnya tumbuh menjadi dandelion baru yang bahagia. Purwokerto, March 20, 2015 Salmaa Khoirunnisaa

I'M COMING!!

Institut Teknologi Bandung

I'm in Pare

hello!! sekian lama nggak posting di blog ini -_____-  saking sibuknya kayanya.. mumpung ada waktu luang, mumpung liburan (?). Eh, emang libur sih, tapi kaya nggak libur -_- Aku di Pare sekarang, sama tiga temenku, Kamila, Nisa, and Salsa. Kampung inggris itu loh.. Improve my English , itu tujuanku kesini. Aku disini sekolah di The Daffodils , ngambil program Speak Second , oke ini suatu program yang mungkin salah kita ambil. Ya, itu program job interview, buat para lulusan -duh, berasa bocil- yang mau nyari kerja. Oke, but no problem for us . Kita bisa ngikutin pelajarannya kok, apalagi tutornya, Mrs.Indah, orangnya motivated banget :D Jadi kita tetep di kelas yg levelnya udah tinggi banget ini B) Asik loh, tadi aja kita baru preparing buat Daffo TV besok.. Aaa jadi nggak sabar :D Kita stay di Cherry Camp , sebuah camp yang kekeluargaannya sangat kental. Semua member bakal membaur disini. Bayangin aja, kamar nyampe dipisah-pisah! Itu bikin kita shock sih sebenernyaa tapi...